Persekusi menurut Hindu

Persekusi menurut Hindu

Untitled-1

Oleh: Gede Agus Siswadi (UKM Penalaran dan Riset IHDN Denpasar, kini menjabat Ketua DPM IHDN Denpasar)

Email: gedeagussiswadi@gmail.com

Dewasa ini banyak sekali kasus yang berupa persekusi yang menimpa warga Indonesia, secara harfiah persekusi adalah salah satu jenis kejahatan kemanusiaan yang berupa perlakuan buruk atau penganiayaan secara sistematis oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain, khususnya karena suku, agama, atau pandangan politik. Persekusi merupakan bentuk intoleransi yang sudah mulai menjamur di Indonesia, padahal secara hukum pelaku atau kelompok yang melakukan persekusi dapat dikenai pasal-pasal dalam KUHP, seperti pengancaman pasal 368, penganiayaan 351, pengeroyokan 170. Pasal 368 KUHP mengatur tentang pemerasan dan pengancaman. Pasal 368 KUHP Ayat 1 berbunyi “ barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang atau menghapus piutang, diancam karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan “.

“Barang siapa dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan”.

Fenomena persekusi bukan saja merupakan tindakan sewenang-wenang yang terjadi dalam scope wilayah saja, akan tetapi fenomena persekusi ini juga terjadi lewat media sosial. Dalam agama Hindu terdapat ajaran yang mengajarkan toleransi dalam hidup dan kehidupan seperti yang terdapat pada kitab sebagai berikut :

Maha Upanisad 6.72

अयं बन्धरयम् नेित गनना लघुछेतसाम्

उदारछिरतानां तु वसुधैव कुतुम्बकम् ।।

Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām

Udāracharitānām tu vasudhaiva kutumbakam.

Terjemahan:

Pemikiran bahwa hanya dialah saudara saya, selain dia bukan saudara saya adalah pemikiran dari orang yang berhati sempit. Bagi mereka yang berwawasan luas, atau orang mulia, mereka mengatakan bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga besar.

Bhagavad Gītā 6.9

सुहृिन्मत्रायुर्दासीनमध्यस्थद्वेष्यबन्धुषु

साधुष्विप पापेषु समबुिद्दिवर् िशष्यते ।।

suhŗn mitrāry udāsīna madhyastha dveșya bandhușu

sādhușv api ca pāpeșu sama buddhir viśișyate.

Terjemahan:

Seseorang yang memandang sama terhadap teman-temannya, sahabat-sahabatnya dan terhadap musuh-musuhnya, terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya dan terhadap pihak-pihak yang netral, terhadap orang-orang asing dan sanak saudaranya, terhadap orang-orang suci dan terhadap orang-orang yang berdosa, orang ini telah mencapai kesempurnaan.

Dalam ajaran agama Hindu terdapat juga istilah “Tat tvam Asi” yang artinya itu adalah engkau, dan dalam Chandogya Upanisad 3.14.1 juga ditegaskan dalam sloka yang Berbunyi“Sarva Khalu Idam Brahman“ yang artinya semua yang ada ini adalah brahman/Tuhan, sehingga dari hal tersebut dalam ajaran agama Hindu sudah sangat jelas mengajarkan cinta kasih, mengajarkan sebuah toleransi sebagai insan yang beragama, oleh karena itu diperlukan sebuah aplikasi dari nilai-nilai ajaran agama sebagai landasan dalam melaksanakan dharma agama dan dharma Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s